Anjing2 menyalak di pinggiran kota ini.
Malam mulai larut dan sang purnama tampak sombong berpijak di kelamnya
malam. Matt berjalan pelan di atas gorong2 kota Manhattan yg tumben2nya
malas mengeluarkan pekik2 keriaan seperti malam2 sebelumnya. Jas
panjang ala Dick Tracy bagai melahap badannya yg letih berjalan.
Seorang perempuan hamil melewatinya dan pikiran Matt melayang menuju 24
tahun yang lalu, saat Gladys, perempuan hamil itu meminta
pertanggungjawabannya. Matt yang tingkah kemasyarakatannya tercela mana
mungkin mau bertanggungjawab atas hal itu. Lagipula Gladys hanya ia
kenal dalam hitungan minggu. Gladys yang hati dan jiwanya sudah koyak
lantas meninggalkan Alice, bayi yg baru lahir itu di depan apartemen
Matt. Raungan bayi yang tak henti2 merentet siang dan malam membuat
Matt menerobos batas perikemanusiaannya. Ia membuang bayi itu ke dalam
tong sampah yang dihuni tikus2 gendut nan liar. Yang ia ingat tentang
Alice hanya satu, tahi lalat di sebelah kiri atas bibirnya dan tangan
kirinya yang hanya mempunyai 4 jari.
Tahun demi tahun mengikis bebatuan yg menutup
hati Matt. Ia mulai mencari Alice yang hasilnya sia2 belaka. Malam itu,
ia mendengar bahwa akan terjadi gerhana bulan yang tentunya sangat2
tidak ia pedulikan. Derap langkahnya mulai pelan ketika tiba2 bulan di
langit terselimuti. Gulita yang ia rasakan. Ia diam sebentar dan dalam
hati berkata “Ah, peduli setan..” ia pun meneruskan langkahnya menuju
suatu bar di pertigaan sana. Ketika terang kembali menyeruak, tepat di
depannya duduk seorang gadis yang menghisap sebatang rokok putih di
atas trotoar kotor. Mata Matt menyipit dan berpikir apakah perempuan
ini PSK atau bukan. Tanpa usaha yang terlalu keras, nampaknya gadis itu
punya channel yang sama dengan apa yang dipikirkan Matt.
Meskipun gelap, gadis itu terlihat manis. Ia mengalihkan tujuan
utamanya dari bar untuk menuju motel murahan. Sesampainya di sana, Matt
langsung mencium bibir gadis itu dengan rakus. Sisi kejantanan Matt
mulai bangun dan ia menyalakan kamar motel untuk melihat di mana letak
tempat tidur. Sedetik kemudian ia melihat jelas wajah gadis itu. Tahi
lalat itu.. Matanya lalu beralih ke tangan kiri si gadis dan.. shit! ia
memakai sarung tangan. “Cantik, maukah kau melepas sarung tangan itu?”
“Mmm.. tidak.” Matt kembali bertanya “Mengapa?” “Karena aku tidak
seperti dirimu yg dikaruniai 5 jari lengkap, dan aku malu akan hal
itu”. Dada Matt makin berdegup kencang. “Boleh aku tahu namamu?”
“Namaku Diana.. tapi itu nama yang diberikan panti asuhan padaku,
katanya nama asliku waktu aku dulu ditemukan adalah Alice. Nama itu
tertulis di gelang yg tersemat di tanganku”. Ya Tuhan.. 24 tahun tak
mengikis ingatannya tentang putri yg ia tinggalkan. Apa yang harus
kulakukan? mengaku bahwa aku adalah ayahnya? ataukah.. apakah.. akh..
ia ingin ini semua hanya mimpi. Tapi.. gadis di depannya ini begitu
kongkret, tak mungkin hanya ilusi.
“Alice.. mm.. Diana dear.. sepertinya aku harus membeli rokok dulu,
kau tunggu sebentar di sini ya”. “Baiklah..” Ia pun melangkah lesu ke
luar kamar motel dan merokok banyak2 di depan motel sambil berpikir
keras. Ketika ia kembali ke kamar itu, Alice sudah tidak ada, hanya ada
secarik memo yang ditulis dengan pulpen biru yang nampaknya bocor. Matt
membacanya..
“Hi.. aku tahu bahwa kau adalah ayahku. 3 tahun yang lalu aku pernah
mencarimu di tiap jengkal kota Manhattan ini. Akhirnya kutemukan kau
bekerja di sudut pabrik ban yang akan bangkrut itu. Aku ingat2 mukamu
baik2, dan takdir mempertemukan kita. Ya ayah.. aku kini hanya pelacur
jalanan. Pisau lipat tadi hampir akan kugunakan jika kau tetap
menginginkan tubuhku. Namun nampaknya ingatanmu tak seperti kerupuk yg
tercelup air. Tak lapuk dimakan usia. Aku ingin berbincang tentang
segala hal pada ayahku. Itu impianku sejak dulu. Tapi ternyata aku
belum siap, mungkin suatu kali nanti, di waktu dan tempat yang tepat,
dimana gerhana bulan tidak menutupi pandangan kita yang semu. Take
care, Your Daughter, Alice.”
Linangan air mata tak terbendung lagi membanjiri jenggotnya yang
belum ia cukur pagi ini. Ia melipat memo itu ke dalam lipatan kecil dan
menyisipkannya di saku celana. Malam masih menemani raganya, ia
menengok ke atas, terlihat bulan masih berwarna indigo indah. Matt
berjalan menyusuri jalan itu lagi manakala kakinya tergigit lumpur
jalanan yang becek. Relung hatinya bergumam “Ya Alice, moga2 kita dapat
bertemu di waktu dan tempat yang tepat..” Kata2 “take care” itu
terngiang di hatinya yang mulai hangat, kontras dengan dinginnya udara
yang dipenuhi asap rokok yang tak henti meruap rapat di udara, serapat
kegelapan di depannya..
