Sudah satu jam aku menunggu di sini. Katanya pesawat menuju Jakarta di delay karena ada masalah dengan bahan bakarnya. Hah, aku kira cuma di Indonesia yang jadwal keberangkatan pesawatnya tidak tentu begini. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, namun ruangan ini jadi semakin dingin. Syal coklat yang baru kubeli di Orchard Road kemarin kuikat dengan erat di leher yang makin keriput ini. Lagu Tiger by Tail dari Michael Franks berkumandang lamat-lamat dari pengeras suara yang di ujung sana. Pilihan yang cukup bagus, karena Michael Franks adalah salah satu dari sekian banyak penyanyi jazz favoritku.
Kantuk menyerang, tapi lebih baik jangan mengikuti nafsu ini untuk tidur karena aku takut kebablasan. Untuk itu, aku pakai kacamata bacaku dan mulai membaca buku kumpulan Esai karya penulis kawakan Remy Sylado. Buku ini hadiah ulang tahunku yang ke-60 dari cucuku, Dhika. Pikiran ini melayang menuju 10 tahun yang lalu, malam ketika Dhika dilahirkan. Aku ikut panik karena anakku Rika menelponku pada jam satu dini hari untuk menyuruhku cepat-cepat datang ke rumah sakit. Akh, sudah 10 tahun aku menjadi seorang kakek. Waktu berlalu begitu saja tanpa kusadari. Dhika sudah kelas 2 SD sekarang, kata ibunya sih dia cukup rajin belajar. Baguslah kalau begitu.
Aku melanjutkan bacaanku ketika pria di sebelahku bertanya:
“Mau ke Indonesia juga, Pak? Jakarta?”
“Iya”, sambil menengok ke arahnya yang mungkin seusia denganku.
“Saya juga”, tambahnya.
Meskipun aku tahu ini adalah dialog basa basi, aku jawab juga, “Oh begitu..”.
Baru dua kata lagi terbaca dari buku ini, ia bertanya lagi.
“Buku apa Pak? Oh Remy Sylado.. Saya juga baca cukup banyak buku dari beliau”.
Kalimat darinya kubalas dengan senyum.
“Ke Singapura ada urusan dinas ya Pak? Kopernya cuma satu”, Katanya sambil mendelik ke arah koper semata wayangku di depan kaki ini.
Aku jawab “Oh tidak, saya sudah pensiun, ke sini hanya berkunjung ke rumah anak saja”. Wah, sepertinya aku salah menjawab, mengapa aku harus membahas kalau aku pensiunan? Pasti dia..
“Bapak sudah pensiun? Saya juga, dulu di Departeman Kehakiman”.
Dan beberapa kalimat meluncur begitu saja dari mulutnya. Apa ia tidak melihat kalau aku ingin membaca buku ini dengan khusuk? Ketika aku merasa sudah tak tahan lagi dengannya dan ingin pindah tempat duduk, terdengar pengumuman bahwa pesawat menuju Jakarta sudah siap. Ah.. leganya hati ini. Dengan tergesa aku menuju pesawat yang dimaksud dan mencari kursiku.
Kuhempaskan badan ini ke atas kursi empuk. Perjalanan yang hanya sebentar akan kuisi dengan tidur agar badan ini lebih segar sesampainya di Jakarta. Kan aku harus naik bis lagi ke terminal Rawamangun, baru di sana akan dijemput Karyo, sopirku yang setia.
Tiba-tiba, kursi di sebelahku diduduki seseorang, aku menengok ke arahnya dan..
“Wah.. Bapak duduk di sini? Pas banget ya Pak, sampai di mana cerita kita tadi?” Duh.. si bapak yang tadi di ruang tunggu.. Apa? Cerita kita? Sepertinya dari tadi kau yang terus bercerita. Wah, tahu begini lebih baik aku suruh si Karyo menjemputku di bandara, karena tampaknya aku akan sangat lelah dan kelelahan..
Your stomach growls when you don’t eat rice for a day.
You believe kecap ABC could turn bad cooking to gourmet food.
You talk during a movie.
You eat fried rice in the morning.
You prefer Versace or Moschino jeans over Gap or Levi’s.
You don’t think Jim Carrey is funny.
You think Onky Alexander is a hunk.
You think Rhoma Irama is kampungan.
You carry a 16 oz. jar of sambal to where ever you travel.
Driving a car that is cheaper than $15,000 embarrasses you.
You think dangdut is stupid, but listen to it anyways, because you are homesick.
You are willing to travel 25 miles to buy tahu and tempe.
You are "Dreaming of a WARM Christmas".
You are very good at avoiding potholes and other road hazards.
Your local McDonald’s serves rice and sambal.
You think Supermi is a staple food.
You have ever tried passing a Rp 50 coin as a quarter in a US vending machine/pay phone.
You have ever successfully bribed a police officer.
You have ever successfully bribed a customs officer.
You do your shopping in Singapore.
Your drivers license claims you are 5 years older then you really are.
You have ever legally bought pirated software.
You have ever been forced to memorize UUD’45.
You have bought something from a barefooted street peddler.
You know exactly how many islands Indonesia has.
You have ever eaten something sold off a cart on wheels.
You realized that money is everything before you were six.
The first thing that comes to mind when hearing the word "Jakarta" is "macet".
Someone you know has ever ridden on top of a train.
Your daily commute includes thinking up new ways to ride the city bus for free.
You don’t mind people being late.
You think standing in line is a waste of time.
You have tried every Monday of your youth trying to avoid upacara bendera.
You have used a mosquito repellant that looks like a coil and is lit on one end.
You use the terms "Ni yee", "-lah" and "Ih, jijay" on daily basis
You know what Pancasila is, what it means and know it by heart.
You complain that movies in America don’t have sub-titles.
Your daily conversation may include enactments of TV commercials.
You have ever consulted a dukun.
Your whole class has ever cheated on a test, and gotten away with it.
You have ever spent the night before an exam looking for someone who sells the questions.
You like the smell of terasi.
You think the Thomas Cup is equal to the Super Bowl.
You can name a manufacturer of shuttlecocks/badminton birdies.
You have a 16′ satellite dish hidden in your back yard.
You have ever ridden in a motor vehicle with three wheels.
You miss your maid during laundry day.
Your clothing has brand names printed on it that is visible from 50′ away.
You attend weddings only until you are done eating.
You have attended weddings that you are not invited to.
You go to McDonald’s to get your weekly supply of ketchup, salt, pepper and napkins.
You know more than one music group that stole the tune of Cranberries’ "Zombie".
You have a can of Baygon on your kitchen table.
You make major decisions based on gengsi.
You take advantage of Wal-Mart’s 30 days money-back-guarantee to "borrow" home appliances.
Someone in your family has extra pockets in his outfit to hide cookies from the all-you-can-eat bar.
You have paid more then $1000 to get your name on your license plate.
When watching TV you regularly find that all the channels broadcast the same thing.
You know more than 10 acronyms/abbreviations.
You set the ring tone of your cell phone as loud as possible.
You spend your weekends at an expensive five star hotel near your house.
You have one of those gigantic 5000 watts stereo system even though you
can’t turn it as loud as you can since you live in a crowded
neighborhood.
Your Toyota Kijang is packed with bull bar, fog lights, roof rail, car
alarm, expensive car audio, gold plated emblems, tail light
"protector", racing steering wheels, sports muffler, lowered
suspension, 17 inch wheels with expensive tires, etc. Yet you find them
not gaul enough.
You are able to squeeze 15 passengers in your Toyota Kijang.
If you’re rich, you buy a huge 50.000 dollars imported SUV and demands it to run minimal 12 kilometers with a liter of gas.
You refuse to buy unleaded gas for your imported car even though it costs less than 20 cents a liter.
You have your drivers license at the age of 14.
You got it without any driving tests.
You are unfamiliar with electric stove.
You are even more unfamiliar with microwave ovens.
If you’re a student, your main purpose in life is to succeed in UMPTN and get into a Universitas Negeri.
If you’ve graduated from college, your main purpose in life is to find
an easy job with big salary at a foreign company even if you have to
stay unemployed for five years to find one.
If you finally got a job, your main purpose in life is now to get a
wife/husband that’s rich, from a "good" family, and the most
importantly good looking in order to memperbaiki keturunan.
Ade
-Angan Terpendam, 29 April 2007-
pengamen jalanan. gadis ini kecil dan judes. bisa nyempil dan umpel-umpelan dalam angkutan umum. jurusan mana serahkan padanya. kalau tidak diberi duit ia memaki.
"weee..lacur!" sahutnya.
Meski kecil ia kelihatan. lafas lagu pinggiran dan non top 40 atau non top 100 ia tahu. suruh saja ia berdendang, dengan suara pas-pasan akan ia jalani dengan sedikit sentuhan koreografi ala agnes monica, goyang dinamis pentasindo atau gaya malu-malu pembantu akan ia libas habis. kelak seorang pencari bakat menemukan jati dirinya dan ia pun menikah dengan pria kaya raya. gadis cerdas…
Agil
-Ingatan di Tengah Jalan Setapak, 17 Mei 2007-
Lisa Simpsons. Sahabat saya yang merupakan anak kedua dalam keluarga. Hobbynya tentu saja musik. Berbagai jenis lagu dia kuasai. Kalau disandingkan dengan handphone trendy masa kini bisa dibilang dia mempunyai fitur Play Now dalam jiwanya. Tinggal sebut judul lagu, maka melantunlah bait-bait lagu yang dimaksud. Walau terkadang hanya humming saja. Berbeda dengan Victor, sahabat saya yang satu ini paling ringan badannya diantara sahabat yang lain. Tapi untuk bermain basket jangan dipandang sebelah mata. Jagoan dia.
Anggit
-RA, 24 Mei 2007-
She’s small… not ant small.. but human small. But I really wonder how she got all her energy. Every scientists know that small tank will only take small amount of energy content. With her little tank, she have twice energy of her body. That’s actually true… one day I decided to do some morning jogging — and she wanted to come along. Well, I like a company… so we jogged together. But really, either she’s half mutant or I’m the one who couldn’t keep up. I always left behind… with a girl, younger, smaller.
You can say that this girl look sporty… you know, the kind of girl who always play basketball… sweaty… and usually they don’t have enough room for logics in their brain.
And I always think that sporty girl tend to not gentle or won’t bother to read books.
She, however is an exception — a rare kind. With her two sibling brothers, she adapt perfectly around boys. She read — a difficult book, poetry, novel, some philosophy and even politics. For a sporty girl she’s not like one when you see her read a book. She can grasp concepts at one read. The only thing that lack… according my experience is that she’s not the kind of girl who will commit to do some work. She is a good thinker but maybe not a good leader. She likes to work but won’t take responsibility role. But her lack of consistency is somehow covered with her good hearted nature… although I might warn you that Wacky and Silly according to me are a good hearted nature… hehehe.
She can write too… this is maybe her true potential.
This is her current blog:
http://titiw.blogs.friendster.com/titiw/
Feel free to leave comments as she will very much appreciate it.
Rasa terima kasih itu membuncah di dalam dada.
Setelah aku melihat sekeliling dan sekitar.
Aku diantar pulang ke kosan oleh sahabatku Temi setelah makan malam bersamanya serta Abim dan Nduty.
Di kosan ngobrol sedikit dengan Kanya untuk janjian menonton bioskop minggu depan.
Aku masuk ke kamar, meletakkan tas berwarna pink oleh2 dari tanteku yang tinggal di Singapur.
Lalu berganti baju dengan kaos distro pemberian dari Tody.
Minum segelas air mineral di gelas bergambar Homer dari Rissa.
Aku nyalakan komputer yang diberi oleh Kak Amri.
Lalu menyalakan lagu "Dedicated To You" dari John Coltrane hasil rip dari CD pinjeman ke Anggi.
Kutancapkan kabel lampion "Forever Friends" dari Indra agar suasana sedikit redup.
Setelah itu kucolokkan flashdisk yang sudah berumur 3 tahun dari Kakak sepupuku.
Di situ aku menyimpan lagu2 yang cukup nice dari Dita di kelas tadi.
Menimbang2 di mana harus kutaruh selembar foto yang diberi dosen fotografi, Pak Ed.
Tiba2 teringat tadi siang yang cukup terik.
Ketika aku makan siang di warung padang di ujung, aku dilayani dengan ramah oleh si Uni.
Untuk pencuci mulut ya sepotong semangka segar yang sudah dipotongi oleh abang semangka bernama mas Anto yang jadi subjek fotoku ketika ada tugas Jurnalistik Foto.
Setelah makan siang, berjalan ke arah warnet dan berpapasan dengan tukang mpek2 baik hati yang membiarkan saya boleh kongkow lama2 di warungnya.
Berpapasan juga dengan Kaka, temanku di Sastra yang kemarin baru menang basket.
Chat dengan Mario, Rani, Nike, Ika, Aldi, Evan, dan Fardiaz.
Aku buka blogku, ada 2 comment baru dari mereka yang kukenal sejak kecil.
Mira mengsms untuk menanyakan tugas, Hamdun menelpon, Jatu juga menelpon untuk bergosip mingguan. Haha dan hihi berkumandang dalam pikiran ini.
Mas Nugi yang berulang tahun hari ini juga menelpon dari rumahnya di Bogor sana.
Eits, kayaknya kamar ini agak berantakan, kuambil buku "Media Scene" dari Mas Harison dan buku "Principle Of Marketing" dari Fitri di lantai dan segera kutaruh di lemari buku.
Cd cd berserakan yang sudah diburn di rumah mas Anggit juga kumasukkan ke tempat cd.
Eh, ada sms.. ternyata dari Reno, temanku sejak D3 yang menanyakan aku makan malam apa tadi.
Setelah itu, Riska, sahabatku sejak kelas 2 SD juga mengirimkan SMS.
Ups.. udah jam 12 malam, tak lupa kukirim SMS untuk Udin yang berulang tahun. Best wishes always pal!
Aku tatap tirai yang susah2 dipasangkan oleh Mama ketika datang ke sini.
Akh.. lelahnya.. sebelum tidur kuminum Madu yang khusus dibelikan Papa untukku.
Dan akhirnya aku menutupkan mata untuk beristirahat di atas seprei yang sudah dicucikan oleh pembantuku.
Oh iya, jangan lupa besok janjian ketemu Hamdun karena dia mau ngasih buku "Kerudung Merah Kirmizy"nya Remy Sylado.
At last.. aku kembali padamu Tuhan. Terima kasih untuk mata yang dapat melihat film Friends berulang kali. Terima kasih untuk telinga ini sehingga dapat mendengar indahnya lagu Northern Sky dari Nick Drake ini. Terima kasih untuk mulut ini sehingga aku dapat bercengkrama dengan teman2ku. Terima kasih untuk lidah yang dapat merasakan enaknya nasi goreng cabe hijau yang ada di kedai tadi. Terima kasih untuk kaki yang dapat dipakai berlari untuk mengejar bola di lapangan basket. Terima kasih untuk tangan yang dapat mengetik kalimat2 ini. Terima kasih untuk semua kesempurnaan ciptaanmu ini..
Selamat Malam.. 
Ti masukin ini di blog lo donk, so everyone
knows
gpp kan?
Kalu ga mau gw juga ga maksa deh
IPOD, isnt’ that thing Expensive?
———————————
Mengerikan
sebetulnya jika mengamati perkembangan teknologi. Boleh dibilang jika
perkembangan otomotif merangkak — berjalan — berlari, maka
perkembangan teknologi adalah merangkak — melompat-lompat.
Bisa dibayangin deh, kira-kira sampai dengan 10 tahun yang lalu
media penyimpanan data magnetic dan chip harganya luar biasa mahal.
Dulu Harddisk 20 GB harganya bisa sampai dengan 800 ribu perak,
sekarang USB thumb drive atau flash disk 2 GB harganya cuman paling
mahal 200 rb. Jadi lucu kalau zaman sekarang ada orang masih bawa-bawa
floppy disk kecil 3.5 inch yang kapasitas mentoknya mencapai 1.44 MB.
Jadi jika dibandingkan dengan USB thumb drive 2000 MB yang jauh lebih
kecil, disket itu jadi jauh lebih inferior dan yang jelas kuno.
2000 / 1.44 = 1388.88~ –> jadi 1 buah USB flash
disk yang dimensinya lebih kecil dari genital lelaki itu sama dengan
1388 keping disket kuno yang gampang jamuran itu. Seandainya kita bawa
Laptop Toshiba sekarang terus pake mesin waktu ke 30 tahun yang lalu
bisa-bisa kita dibilang penyihir dan dibakar hidup-hidup.
Semakin murahnya media penyimpanan per MB nya juga mau nggak
mau mendorong persaingan yang seru diantara para pemain MP3 player. Dua
tahun lalu beli iPOD Nano 2 jutaan sekarang cuman 1,2 jutaan. Ngeselin
kan?
Para pemain MP3 player sekarang ini benar-benar harus memanjakan
konsumennya. Jika punya uang cuman 200 ribu rupiah, jangan berkecil
hati… ada lo MP3 player yang harganya segitu. Dengan kapasitas yang
128 MB, kita bisa menikmati lagu sampai dengan 20 an lagu (rata2
kapasitas 5 MB an)… hmm itu kan lebih banyak dari 1 albumnya Peter
Pan. Walaupun dengan harga 200 rb terpaksa kita harus merelakan
kurangnya kualitas suara. Padahal dulu beli walkman kaset saja bisa
harus merogoh kocek dalam-dalam lebih dari 300 rb rupiah.
Jika ingin menikmati suara yang berkualitas, minimal, paling tidak,
at least siapkanlah uang Rp. 500 rb. Dengan uang segitu kita bisa
memilih kelas yang lebih luas lagi, seperti produk-produk creative
kelas entry. Btw, Creative terkenal di dunia teknologi suara sejak
zaman saya masih SMP kelas 1. Disitu dia memproduksi Creative
Multimedia Kit. Solusi Multimedia untuk PC-PC bisu alias tidak punya
sound card. Dulu harga sound card mahalnya kan maen. Jadi
produk Creative pasti bisa diandalkan kejernihan dan kejelasan suaranya.
Jika punya uang lebih banyak lagi, seperti 700 rb - 1 juta. Produk
mid classnya Creative dan Samsung bisa kita miliki. Jika melihat
Samsung, rasanya nggak percaya ya, merk pemula (dibanding dengan
Creative dan iPod) bisa menghasilkan kualitas suara yang super jernih.
Setelah itu misalnya kamu lagi kaya atau habis ngerampok bank atau
jadi penipu ulung dan punya uang diatas atau sama dengan 1,2 juta…
jangan ragu-ragu beli Apple iPOD… produk ini keren, elegan, simple,
pintar, bandel, nggak rewel, pokoknya bisa horny deh ngeliat lekuknya
yang seksi itu. Produk besutan Apple ini memang didisain dengan
memperhatikan detil dan kualitas yang luar biasa. Jika banyak MP3
player berguguran karena banyaknya bug/error, iPoD ini bisa dibilang
error free.
Tapi Ipod juga bukan tanpa kekurangan. Yang paling utama sudah
jelas, harga. Harga Ipod dibandingkan dengan produk lain yang sekelas
seperti Creative dan Samsung masih jauh diatas. Ipod juga cukup egois
dalam manajemen lagunya. Pengguna Windows diwajibkan menggunakan iTunes
untuk bisa mentransfer lagu-lagu ke dalam mesin iPOD. Padahal bisa saja
Ipod didisain supaya adaptive dengan software pemutar lain yang
tersedia. Belum lagi versi-versi Itunes yang sering error dan konflik
dengan Windows. DLL ini belum ada lah, versi ini tidak sesuai lah, ini
lah itu lah. Tapi hal itu tidak akan terjadi jika menggunakan Macintosh.
Untuk yang satu ini Creative dan Samsung jauh lebih adaptive, colok,
copy, mainkan layaknya USB flash drive biasa. Kedua produk ini juga
bisa digunakan berdampingan dengan player yang telah ada di Windows
seperti Media Player dan Winamp.
Jadi? Jadi beli IPOD nih? Mahal Loh….
Klik
Disini untuk seputar teknologi MP3 dan kompresi lain
Saya paling irritated sama:
Hujan..
Mobil yang kutumpangi menerobos udara malam yang cukup membuatku menggigil.
Suara sang penyiar di radio yang bersegmen untuk eksekutif muda itu terdengar lamat2.
Mobil ini berputar di U turn.
Hujan masih egois ingin tetap turun meski airnya sudah merembes pada sepatuku.
Rintiknya mengalir di jendela sebelah kiriku ini.
Percakapan mereka tak terdengar jelas di kupingku.
Tak ada petir, namun melihat sosok itu membuatku terhenyak.
Tiba2 lelet sekali rasanya detik berdetak.
Aku melihatnya bagai adegan lambat.
Terlihat wipernya bergerak pelan.
Kiri.. kanan.. kiri.. kanan.. kiri.. kanan..
Dapat dipastikan ia tak melihatku yang berada di mobil ini.
Sayu mataku melihatnya.
Pupilku mengecil dan membesar.
Otot leherku ingin menengok dengan ekstrim, namun si otak berkata "Jangan".
Apakah jika sebuah hubungan sobek maka tak bisa ditisik kembali?
Padahal tak apa jika sekedar telpon atau pesan singkat.
Atau makan siang bersama.
Aku tak akan berharap lebih.
Apa? aku yang menghubungi duluan?
Akh.. tak mungkin.. kan ia yang menyentilku keluar dari lingkaran.
Pasti kening itu akan mengerut tanda difensif jika kuhubungi.
Aku bagai menghadapi verboden komunikasi dalam hal ini.
Aku tak mau lagi mengganggu kehidupannya.
Lagipula aku tak kuat lagi jika dering demi dering yang kutujukan diabaikan.
Bagai penantian panjang menunggu seseorang dari medan perang.
Tak jelas apakah ia masih hidup ataukah sudah gugur di sana.
Yang ada hanya rasa perih yang tak terperi.
Wiper itu masih bergerak pelan.
Kiri.. kanan.. kiri.. kanan.. kiri.. kanan..
Membersihkan air2 di kaca depan.
Kaca yang biasanya ditempel dengan fotoku.
Air itu terbilas pelan2.
Debu2 luruh.
Mungkinkah aku bagaikan debu2 yang mengotori kehidupannya?
Yang pelan2 ingin ia hapus..
Atau mungkin bagaikan polisi tidur di depan sana yang menghambat laju hidupnya?
Yang sebenarnya ingin ia hindari..
Kiri.. kanan.. kiri.. kanan.. kiri.. kanan..
Gerak demi gerak wiper seiring dengan hatiku.
Yang retak sedikit.. sedikit.. sedikit..
Lalu bagaikan di film kartun..
Ia hancur berkeping2 tanpa ada yang memungut dan mengelemnya.
Sayup2 lagu yang dulu aku dengar tanpa ada asumsi apa2..
Sekarang rasanya tajam menusuk hati yang sudah hancur itu.
"Send someone to love me..
I need to rest in arms..
Keep me save from harm..
In a pouring rain.."
Yeah.. you really got me Robbie..
Gebleeeeeggg.. banget itu yg bikin iklan ESIA yg paling baru. Teknologi CDMA mbok ya kok dikomper sama teknologi GSM? ga masuk.. ga cocok.. ora gelem.. Gebleeeg…
Kalo mo ngarti tentang teknologi CDMA dan GSM, coba klik disini. Ini blog temen saya yg sangat tokcer dalam perkembangan teknologi
Dasar si bakrie tuh emang setupit. Dagunya kepanjangan sih, jadi gak bisa liat orang2 yg di bawah lagi kesusahan. Mending jualan roti sonoh.. Apa nggak kalo lo pinter mbok ya itu yg di sidoarjo jadiin tempat wisata bath tub lumpur terbesar di dunia aja. Pasti minimal masuk rekor MURI. Ya iyyaa.. wong MURI kan semuanya dimasuk2in.. AKh, gebleeeggg..
hai..
saya nugi (www.friendster.com/paklik). seperti kamu bisa liat di profil saya (kalo saya udah kamu approve), udah sejak taun 2004 saya ikutan friendster. & yg bikin saya giat mengunjungi friendster pada awal2nya adalah mungkin seperti juga alasan banyak orang: nemuin temen2 lama.
mungkin cuma setaunan saya bener2 rajin nengokin friendster untuk tujuan itu. begitu udah lumayan banyak temen2 lama yg saya temuin disitu (sehingga bisa menjalin kontak lagi), sementara bbrp teman lama lainnya tetap tidak bisa ditemukan disitu. akhirnya saya jd gak terlalu antusias dgn friendster.
yg saya lakuin setelah itu paling baca & ngisi2 buletin konyol ato nambah2in galeri foto. & saya sebenarnya gak punya keinginan (& keberanian) untuk melakukan apa yg saya lakukan ke kamu sekarang. gak kepikiran untuk nge-add orang yg gak saya kenal, apalagi hanya untuk dibilang temennya banyak. satu2nya hal ‘gila’ yg pernah saya lakukan dgn friendster adalah ngirim pesan (nge-add) ke beberapa orang yg juga bernama ‘nugi’. dipesan itu diantaranya saya bilang: “Untuk itu, ijinkan saya untuk memasukkan anda ke friend list saya (demikian juga sebaliknya). Semata2 untuk merasakan sensasi yg belum pernah saya rasakan: punya teman dgn nama yg sama”. jd, jgn heran kalo kamu liat banyak sekali nama ‘nugi’ di friend list saya .
untuk kasus kamu, hampir sama dgn yg bikin saya akhirnya mutusin ngirim pesen ini ke kamu. kalo saat nemuin ‘nugi’2 itu dimulai dgn masukin entry ‘nugi’ di mesin pencari di friendster dgn batasan “name”, maka kamu saya temuin sesaat setelah saya masukin entry “goenawan” (untuk goenawan mohamad) & “seno” (untuk seno gumira ajidarma) sekaligus dgn batasan “books”. gak sebanyak waktu saya nemuin ‘nugi’ sih…kala itu kalo gak salah saya nemuin 70an orang. kali ini hanya ada 40an.
lalu kenapa kamu?. pertama, pas saya liat profil kamu, dlm hati saya: “yyaaa ammpppuuunn…gimana caranya seorang cewek 22 taun bisa punya selera buku & musik ’setua’ itu?!?!”. eh…beneran lho…ini lebih banyak komplimennya ketimbang sebaliknya. gila..”seno” & “catatan pinggir”? trus stevie wonder? hal2 yg saya sukain disukain cewek 22 taun?. jujur selintas saya sempet mikir itu semua ‘hanya’ krn pengaruh kakak ato sodara kamu.
tp begitu saya baca blog kamu, yg menjadi alasan kedua “kenapa kamu?” diatas, baru saya kerasa kalo kamu bkn hanya pembaca, tapi pembaca berat. saya suka banget ama “36″ & “I.N.V.U” yg begitu misterius buat saya. trus saya juga suka ama “T-shirt” yg buat saya istimewa krn bisa bikin orang mikir lewat hal2 se’sederhana’ T-shirt yg dipake orang sekitar kamu. keren! keren banget.
dan setelah saya liat tulisan kamu yg lain di ‘review’ & liat foto2 kamu, yg saya tangkap dr kamu adalah sesuatu yg saya rasa banyak ingin dipunyain orang (termasuk saya): energi & antusiasme.
akhirnya, mudah2an kamu gak keberatan kalo saya add kamu, baik di friendster maupun di yahoo messenger. saya bener2 ingin punya kesempatan untuk tau kamu lebih jauh. selain krn kesamaan dr bbrp hal yg saya & kamu suka, saya pikir ada di sekitar kamu akan bikin saya tertular energi & antusiasme kamu yg saya liat menyala2 itu.
sekali lagi, mudah2an ini akan jadi awal yg baik. makasih untuk perhatiannya.
salam,
- nugi
Hadoh.. panas.. ingus meler.. Tugas kok banyak buanget.. pulsa pake acara abis segala.. Mana nada ring back tone eike tiba2 aja diberi seseorang tanpa konfirmasi, coba dah telpon saya, lagunya "Sendiri" dari Rida Sita Dewi. Hahay.. Si Hamdun belon ngabarin mo bawain buku Remy Syladonya kapan.. Di winamp yang terdengar kok malah lagu2 yg bikin tambah panas.. coba diliat dulu, akh.. Paul Van Dyke.. matiin lampunya dong DJ! Semut merongrong coklat cadburyku di kamar yang belum sempat disapu, apalagi dipel.. Punggung sebelah kanan nyeri karena terlalu lama berkutat depan komputer.. Hadooh!! ganti lagu dulu ah..
Hemm.. For The Price of a Cup of Tea dari Belle and Sebastian jadi pilihan.. Enak sekali lagu ini. Terbayang musim gugur di jalanan ramay Amerika. Tepi jalan yang dipenuhi cafe.. berjalan sambil menyanyikan lagu ini, tersenyum kepada seorang pria yang sedang meminum secangkir teh, seorang nenek yang sedang menuangkan susu pada pasangannya yang sama-sama berusia senja, dan seorang barista yang sedang mencampur shot demi shot kopi untuk menghasilkan cita rasa yang terenak menurutnya. Sial.. kenapa jadi ngalor ngidul begini? ayo ayo.. selesaikan papermu dengan cara copy paste nak, jangan lupa kirim ekonomi media ke Abim.. Fyuuh.. panasss.. Eh, jangan seneng dulu, kalo di neraka mah, ini baru di teras doang.. huhu..